Rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang Insya4JJ dan Puji Tuhan saya cintai, ijinkan saya berkeluh kesah di sini, andai Anda sekalian tidak dapat menerimanya, mohon dengan hormat jangan membaca, apalagi meminta orang untuk membacakannya untuk Anda. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, selalu bersama Anda. Terus terang, saya bingung, belakangan ini, entah karena keterbelakangan saya sehingga saya bingung, atau karena belakangan ini saya mencoba untuk menjadi orang yang tidak terkebelakang…entahlah…
Saya bingung ketika kita ribut-ribut mengenai kenaikan BBM, pengurangan subsidi bagi Rakyat sementara ada kenaikan tambahan tunjangan bagi DPR. Lha, apa itu bukan konsekuensi logis, menaikkan BBM bisa “dikejar” tidak hanya oleh para penerima Bantuan Langsung Tunai, melainkan juga oleh DPR. Pemerintah tentu akan lebih sulit “mengambil hati DPR” daripada “mengambil hati rakyat. Lha wong mengambil hati rakyat itu mudah…Setahun bermanis-manis, atau menjadi pihak yang dikucilkan…setahun sebelum pemilu tentunya…pasti dikasih hati sama rakyat. Percayalah…bangsa kita benar-benar manusia paling sejati seantero jagat! Mau bukti, orang Arab bilang wa ma summiya-l insan illa linisyaani, yang maaf kalau tidak salah1,jelas tidak ada yang bisa mengakui dirinya manusia sejati, sekalipun punya ilmu segudang, kalau ia tidak pernah lupa. Alhamdulillah orang-orang kita pelupa, jadi orang-orang kita (sungguh, boleh Anda baca, bangsa Indonesia) adalah manusia dalam artian yang sesungguh-sungguhnya…gile bener…. Mengambil hati anggota Dewan, itu lain ceritanya…lha wong mereka representasi rakyat….maka presentasi mereka harus diapresiasi dengan present juga (baca hadiah). Harrrri ginneh masih nyari nyang gratisan…aaammmiiitttt-aaammmiiitttt2
Bingung dengan keadaan negara…tidak perlu…. Setidaknya kita pernah mendengar atau membaca, ketika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancuran…. Nah kenapa kita mesti bingung memikirkan negara, toh kita sudah melihat ada orang yang meneriakkan kebenaran perubahan harga BBM, tanpa ia mengetahui kebenaran tentang perubahan harga BBM itu sendiri, apa itu tidak pertanda kehancuran…. Ndilalahnya, ketika ada koreksi, mudah sekali bersembunyi dibalik “tidak semua kebaikan itu dapat diapresiasi dengan kebaikan pula”. Jujur saja, seingat saya, kalo sorga itu ada, tidak ada persyaratan masuk sorga yang menyiratkan - mohon dikoreksi kalau saya salah – kewarganegaraan Anda, suku bangsa Anda, titik tolak penilaian kan perilaku kita(?). Tetapi jika tulisan ini juga tetap salah, percayalah itu lebih baik daripada berdiam diri…he…he….he.
Perihal korupsi yang merajalela, pungli dan pembalakan liar. Pernah gak sih kita kepikiran bahwa seseorang yang korupsi itu karena ia ingin mensejahterakan istrinya; minimal dapat ikut arisan sesama tetangga di komplek mereka tinggal, yang kebetulan diadakan di Hongkong? Melakukan pungli karena takutnya anaknya tidak bisa membayar ongkos hidup di NTU?, atau membalak hutan karena takut anaknya tidak dapat melakukan penelitian di MIT? Jujur saja, niat itu dapat dianggap mulia kan!? Tidak ada yang salah dengan niatnya…tul? Kalau ada yang salah itu cuma kelakuannya saja, tidak lebih, dan kelakuan itu bukankah bagian dari aktivitas seseorang untuk menemukan jati dirinya, lalu…dibiarkan saja? Tidak…jangan dibiarkan…. cukup kalau kita tahu, doakan saja istri atau anak orang tersebut, meninggal dunia, minimal kecelakaan pesawatlah, yang nilai asuransinya tinggi. Kalau itu terjadi…saya yakin ybs3 tidak merasa perlu untuk melakukan ketiga hal tadi, kecuali kalau ia menikmati ketiga hal di atas, sesungguhnya kenikmatan tiap-tiap orang itu pasti berbeda, dan tidak akan ada orang yang ingin diganggu saat-saat ia merasakan kenikmatan… Jadi, biarkan saja, tho masuk surga atau nirwana sendiri-sendiri, yang bisa kita lakukan secara berjamaah itu hanya ada di dunia, mulai dari sholat hingga korupsi, tapi masuk surga…yang maaf bin maaf, kagak asyik aja kalau berjamaah…
Coba Anda bayangkan, ketika Anda telah jungkir balik berbuat kebaikan di dunia, tiba-tiba hitung-hitungan Anda di akhirat cuma seperti ini, (perumpamaan kata-kata Malaikat) “ Anda saya lihat sering shalat berjamaah dengan si Fulan, si Fulan kebetulan sudah masuk Surga, Anda masuk Surga saja deh, ikut dia…” Apakah Anda tidak merasa terganggu? Hilang dong harga diri Anda sebagai manusia… Atau Anda sudah berusaha menghilangkan tahi mata Anda untuk Shubuh berjamaah, tiba-tiba (lagi-lagi perumpamaan kata-kata Malaikat) Si Fulan, sudah masuk Surga, saya lihat Anda sering berjamaah dengannya, Subuh Anda tidak pernah absen nih…hebat…Tapi…nanti dulu, sebentar…sebentar… Anda Subuh karena kebetulan Si Imam itu atasan Anda, lho…kok kebetulan ya…? Nanti dulu, Anda belakangan…. Ternyata, secara kebetulan pula, Anda dicuci dulu di Neraka…alhasil yang keluar dari mulut Anda adalah…Tau gitu… Jujur saja, keberadaan pembalak liar, koruptor, pencoleng, penjahat, sebenarnya menguntungkan kita, lahir dan batin. Pertama, kita dapat merasakan bahwa kompetitor kita untuk masuk sorga itu berkurang. Bayangkan, dalam keseharian saja kita sering berkompetisi, bahkan secara tidak sehat, baik untuk jabatan, nama baik, pasangan hidup,bahkan harta. Semakin banyak orang berbuat kejahatan, mudah-mudahan menambah besar kans kita untuk mencapai paradiso tadi, tetapi kalau kita termasuk penjahat, sesungguhnya kita telah memudahkan langkah beberapa orang untuk mencapai surga, dan mudah-mudahan tetap ada pahalanya…(Anda boleh teriak Aaammmiiittt- aaammmiiittt atau Aaaaamiiiiiieeeen….terserah)
Perlu juga diinsafi, bahwa keberadaan teman-teman kita yang jahat, ternyata malah memudahkan kita melihat surga. Dari kecil seringkali kita diajarkan bahwa sorga berada di bawah telapak kaki ibu, padahal karena kelalaian ibu kita menyisihkan uang untuk beli sendal, sepatu atau krim pelembut kaki4, telapak kaki Ibu itu kasar, salahkan kalau kita menganggap sorga itu sekasar telapak kaki Ibu!?. Maka, semakin banyak orang jahat, mudah-mudahan semakin kita dapat mengidentifikasi sorga, yaitu secara minimal dengan tidak melakukan aktivitas penjahat tersebut, atau minimal kita dapat berhati-hati membedakan antara niat yang baik dan benar, dengan tindakan yang baik dan benar. Lalu bagaimana pula dengan keberadaan generasi yang akan datang? Percayalah tiap-tiap generasi, dimanapun ia berada, terutama yang berasal dari manusia, akan memiliki kemampuan hidup maupun resilience5 yang berkesesuaian dengan masa mereka, dan ingat juga dong… our future is now.
SBYJK, Sering Bohong, Ya Jelas Kualat, maka itu, saya mohon apabila ada yang ingin menyampaikan kritikan atas tulisan ini, celaan bahkan masukan yang membangun sekalipun, sesungguhnya kami tidak dapat menerimanya, apabila itu hanya dilontarkan dalam hati Anda… Selamat Iedul Fithri 1426 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Kariem. Semoga tetap ada Sorga di dunia sana bagi masyarakat Indonesia…Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.
Kritik dan Saran atau Makian…takut cukup disms aja ke 0813-19857216.. Insya 4JJI akan saya balas dengan ucapan terima kasih…(di luar akan menjadi pembelajaran bagi diri pribadi saya>>>tx)