Posts Tagged “Agama”

Agama itu…
penciptaan TUHAN YMEAgama itu…
ADI KARYA TUHAN YME Ke2 Setelah Manusia

Agama itu…
Penjara bagi mereka yang merasa terkekang dengan keberadaannya

Agama itu…
Kunci kebebasan bagi mereka pengikut setia dan berakal

Agama itu…
Permainan Akal

Agama itu…
Alat pencari dukungan bagi politisi

Agama itu…
Alat pencari uang bagi para pengkhotbah atas namanya

Agama itu…
Bisnis menggiurkan kedua setelah bisnis syahwat

Agama itu…
Alat untuk perang

Agama itu…
Kunci kedamaian

Agama itu….
Pembatas antara Kemauan dan Kemaluan

Agama itu…
Permainan sejarah ketidakberdayaan manusia di bumi

Agama itu…
sarana hitung-hitungan baik dan buruk

Agama itu…
Alat cuci nama

Agama itu…
Pemberdaya yang paling ampuh

Agama itu…
Pemerdaya nomor satu

Agama itu…
Bahan tertawaan di saat khotbah atau ceramah

Agama itu…
Bahan renungan di cafe, bar, atau diskotik

Agama itu…
Sesuatu yang nama pemiliknya sering disebut kala setubuh

Agama itu…
Sesuatu yang nama pemiliknya sering disebut kala lara

Agama itu…
Rangkaian data

Agama itu…
Rangkaian Fakta

Agama itu…
Kombinasi rangkaian data dan fakta

Agama itu…
Manipulasi rangkaian data dan fakta

Agama itu…
alat pembenar di kala putus asa

Agama itu…
alat penyemangat di kala berusaha

Agama itu…
permainan otak, bukan kotak

Agama itu…
permainan akal, bukan akal-akalan

Agama itu…
tantangan tak pernah habis bagi mereka yang mencoba menggunakan akal

Agama itu…
hiasan yang memabukkan dan memalukan bagi mereka yang tak menggunakan akal

Agama itu…
sedianya permainan keteraturan

Agama itu…
sesuatu yang dimulai dari keberadaan ketidakaturan

Agama itu…
Milik-NYA ; dengan apapun IA disebut

Agama itu…
Bumerang mematikan dan berkah luar biasa bagi manusia

Agama itu…
jalan hidup bukan alat untuk hidup

Agama itu…
Permainan yang diciptakan-NYA
untuk
diamini manusia
dinikmati manusia
disesali manusia
diperdayai manusia
diberdayakan manusia

Agama itu…
Dengan apapun itu disebut…
boleh jadi…
sebuah… K e n i s c a y a a n




bier 1b
12092007

Comments 1 Comment »

Sebuah perjalanan, memiliki langkah awal..dan langkah awal dalam suatu kehidupan sosial boleh jadi adalah komunikasi


Komunikasi boleh jadi tidak berlangsung secara utuh, bertatap muka atau bertukar kata-kata. Berangkat dari awal mula, yang mengatakan manusia pada dasarnya adalah makhluk yang belajar untuk berbicara, atau menentukan nama atas sesuatu, baik secara individu maupun bersama-sama, maka komunikasi awal mula adalah komunikasi tanpa kata-kata.Tapi, komunikasi awal mula harus diakui belum bentuk tulisan, karena tulisan baru ditemukan kemudian hari, setelah ada perkembangan berkomunikasi di dunia manusia (realitas sosial)

Maka, komunikasi awal mula, dalam hemat penulis hanya terdiri dari dua hal, entah mana yang paling awal, Anda tentukan sendiri, yaitu komunikasi Anda dengan diri Anda sendiri, dan komunikasi Anda dengan apa yang mungkin dapat Anda sebut sebagai TUHAN, atau sesuatu yang patut ANDA HARGAI secara lebih baik. Berkaitan dengan hal kedua, maka IDENTIFIKASI DIRI ANDA sebagai penganut ATEISME, boleh jadi Anda menjadikan ATEIS sebagai TUHAN Anda.Ada dua hal penting dan merupakan turunan dari kedua hal di atas. Pada bagian  komunikasi Anda dengan diri sendiri, ada hal esensial yang tidak mungkin anda pungkiri, yaitu Anda tidak mungkin membohongi diri Anda sendiri. Bagaimanapun  pandainya Anda membohongi masyarakat sekitar Anda, Anda tidak akan dapat membohongi diri Anda sendiri. Kata hati Anda, adalah hal yang nyata, ia tidak mungkin Anda bohongi,yang ada adalah Anda berusaha membohongi diri Anda sendiri, tapi secara realitas, Anda hanya berusaha melarikan diri dari diri Anda sendiri. Pertanyaannya adalah, mungkinkah?

Pada bagian Anda berkomunikasi dengan TUHAN,dengan nama apapun Anda sebut TUHAN Anda, sesungguhnya Anda mengetahui bahwa sangat tidak mungkin untuk membohongi TUHAN Anda. Bahkan pada tataran paling naif, Anda akan melihat, untuk membohongi kedua hal di atas, baik membohongi diri Anda maupun TUHAN Anda adalah suatu hal yang bohong.

..:Sebuah Tanda Tanya

Berdasarkan dua hal di atas, tentu akan sangat sulit bagi kita untuk menghindari diri sendiri dan TUHAN. Pada bagian lain, dua hal ini menjadi tonggak awal, bagi pemikiran dalam komunikasi.

Penegasan utama adalah, apabila Anda tidak dapat membohongi diri Anda, dan TUHAN Anda, kenapa Anda memaksakan diri untuk membohongi orang lain. Jujur, hal ini sulit, sebab seringkali kebohongan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Apabila kalimat ini dijadikan pegangan, maka  keinginan untuk tidak berbohong juga sangat manusiawi.

Terakhir, ketika kita membohongi orang lain, maka kita tanpa sengaja menindas diri kita untuk dapat berbohong dan membohongi diri. Selain itu, tanpa disadari, kita telah mengajak “perang” sang Pencipta.

Sebuah awal, dari suatu proses sosial adalah komunikasi, dan sebuah akhiran dari suatu proses sosial boleh jadi terputusnya komunikasi. Maka, awal dari suatu proses komunikasi secara umum adalah kejujuran, dan ia harus juga diakhiri dengan kejujuran yang lain.

Wallahu A’lam bishshowab.

Comments No Comments »

Ini adalah cerita

Suatu ketika , seorang Raja meminta kepada para menteri dan punggawanya, untuk membawakan seorang perempuan yang cantik, bijaksana, pemaaf, dan segala-galanya. Waktu yang diberikan cuma seminggu. Apabila gagal, para menteri akan dihukum gantung dan punggawa dihukum rajam.

Semakin lama, semakin dikit waktu tersisa, para menteri beserta punggawa belum ada yang menemukan jawaban. Alkisah ,salah satu dari mereka tanpa sengaja menceritakan hal ini kepada salah seorang tukang kebun istana. Tukang kebun, yang lugu dan tidak bisa baca tulis, memberikan sebuah kitab suci, sambil berkata “Inilah jawaban bagi Sang Raja”

Sang menteri tertegun, berusaha mencerna apa yang dikatakan si tukang kebun. Tukang kebun, tertawa, keheranan melihat keterbelalakan sang menteri. Ia berkata, Tuan, sebagaimana yang Anda tahu, saya tidak bisa baca tulis, tapi saya tahu, bahwa ini adalah kitab suci saya.” Saya hanya dapat memandanginya, sambil berharap ia memandangi saya juga, saya tidak dapat memahaminya, maka saya akan mengganggap ia adalah sesuatu yang ideal. Ia tidak menggurui, karena saya belajar hanya dari memandang dirinya, Ia tidak menghardik, karena saya tidak dapat berbuat lebih, kecuali menyentuhnya. “

“Tapi, potong si Menteri, bukan kah Raja, bahkan saya sendiri dapat membaca dan menulis?” . “Betul, jawab tukang kebun. Karena Anda sekalian dapat membaca kitab suci, dan mahir menuliskan ulang isinya, Anda sekalian kehilangan kecantikan dirinya. Karena kemahiran Anda tersebut, Anda lupa mengingat, bahwa sesungguhnya, Ia adalah teman sejati Anda.”

Bergegas sang Menteri menghadap raja, mempersembahkan kitab suci, dan selamatlah para menteri serta punggawa kerajaan tersebut.

Donald Dustbin, 11-8-2007

Comments 1 Comment »

Memberi maaf bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab memberi maaf meninggalkan tantangan bagi si pemberi maaf untuk merelakan suatu perbuatan yang telah dilakukan oleh pihak lain pada dirinya. Saking sulit dan luar biasanya perbuatan memberi maaf, banyak kita dengar tentang pahala dari 4JJI SWT atas perbuatan tersebut. Tapi mari kita simak pembicaraan sederhana ini :

Agung : Aldi, maafin gua ya, gara-gara gua lu jadi kagak lulus, sumpah gua gak

maksud minjem buku lu untuk ngilangin, ape lagi sampe bikin lu kagak

lulus ujian…

Aldi : Wah berat Gung, kayaknya gue kagak bisa maafin lu, ya gimana ya…

mungkin lu kagak niat nyelakain gue, tapi kenyataan yang udeh ada pa pan kagak mungkin berobah, gue harus ngulang tuh mata kuliah atu…

Agung : Jangan gitu dong Om, 4JJI aje maapin orang-orang yang salah….

Aldi : (tanpa ekspresi) Gung, lu jangan nyamain gua ama 4JJI dong, 4JJI

mah enak, Die bise maapin orang karena Die juga bisa ngerobah

keadaan, pan kite ame-ame tau tuh, kalo Innama amruhu idza Arada

syaian an yaquulalahu; Kun fa yakuun nah kalo gue maapin lu, ape

gue bisa merobah keadaan…sumpah gue gak nyangka, loe udah

pinjem buku agama gue, kagak lo pulangin pas mau tes… eh masih

oon….

Tentunya, masing-masing pihak dapat memperdebatkan apa yang telah dibicarakan oleh keduanya, tapi, mari kita ambil sisi positif dan negatif, dari pemberian maaf yang mudah dan menganalogikannya dengan keberadaan maaf dari 4JJI SWT. Sisi negatif positif ada pada Anda sekalian, dan biarlah 4JJI membimbing kita semua dalam menentukan pilihan. Tetapi beberapa kemungkinan yang ada dan dapat saya ketengahkan adalah sebagai berikut :

  1. Pemberian maaf yang terlalu murah, dapat berakibat pada memudarnya rasa tanggungjawab dalam diri seseorang (mereka yang meminta maaf). Pada bagian ini, semakin sering ia meminta maaf, boleh jadi tidak menunjukkan kerendahan hati yang ia miliki, melainkan kurangnya rasa tanggung jawab dirinya atas perbuatan yang ia lakukan.

  2. Pemberian maaf yang terlalu murah, baik pada tataran pemberi maupun penerima, menyebabkan kata maaf kehilangan arti, sehingga pengulangan kesalahan (juga) dianggap sebagai hal yang manusiawi.

  3. Pemberian maaf yang terlalu murah, juga menyebabkan individu peminta maaf kurang waspada dalam bertindak, sepengetahuan saya, semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia ini, mengajarkan kewaspadaan dalam hidup. Maka, pemberian maaf yang pada awalnya merupakan implementasi sederhana dari kehidupan beragama, berbalik menjadi benih penentangan (laten) atas agama itu sendiri

  4. Pemberi maaf, yang tersentuh dan memberikan maaf, sesaat setelah ia diingatkan akan Sifat Maha Maaf dari Yang Maha Kuasa, secara tidak langsung menganalogikan dirinya sebagai Yang Maha Kuasa, playing God. Perlu diingat, selain tidak dapat menciptakan nyawa, salah satu hal yang menyebabkan Fir’aun tidak dapat menjadi Tuhan yang patut disembah adalah karena ia tidak dapat memaafkan mereka yang tidak patuh atas perintah dirinya. Secara sederhana, Fir’aun terjebak (atau dijebak?) dengan konsistensi dirinya dalam mengaku-aku Tuhan. Atau, pada titik paling mengharukan, ia berusaha konsisten (hanya) untuk menjadi dirinya sendiri. Berdasarkan hal tersebut, pemberi maaf di atas, sesungguhnya jauh lebih “sesat” dibandingkan Fir’aun. Keberuntungan bagi mereka adalah, saat ini tidak ada lagi Nabi atau Prophet, sehingga mereka tidak perlu takut akan diingatkan oleh orang lain.

  5. Pemberi maaf, apabila tidak belajar dari pengalaman dirinya dalam memberikan maaf atas seseorang, sesungguhnya memicu “menjebak” peminta maaf untuk selalu terus menerus berada dalam situasi perbuatan yang salah. Peminta maaf mengganggap pemberi maaf adalah individu yang murah hati, sehingga kapan saja ia dapat meminta maaf – sekalipun atas pengulangan kesalahan yang sama – pada si pemberi maaf. Apabila pemberi maaf bermaksud mengurangi kompetisi “masuk surga” di antara manusia, boleh jadi pemberian maaf adalah hal yang baik.

  6. Pemberian maaf sebaiknya didasarkan pada pengetahuan yang memadai tentang keadaan si peminta maaf. Pemberian maaf yang membabi buta, tidak hanya memberikan “jebakan batman” bagi yang diberi maaf, tetapi juga mengikis kewaspadaan dari si pemberi maaf.

  7. Pemberian maaf yang disadari dengan baik sebagai bentuk pengakuan keberadaan 4JJI atau Tuhan Yang Maha Pemaaf, dimungkinkan sebatas tidak ada keinginan – baik sengaja maupun tidak sengaja – dari pemberi maaf untuk menjadikan dirinya sebagai “4JJI dalam bentuk yang lain” atau “Tuhan dalam bentuk yang lain”. Perlu dicermati secara seksama, pemberian maaf tidak selamanya menolong bagi mereka yang meminta maaf.

Tentu masih banyak argumentasi tentang maaf – yang saat ini berkembang di benak Anda – dan belum tercantum di sini. Pro kontra boleh terjadi, tapi satu hal yang sama-sama kita ketahui, apabila kita mencoba untuk mencari kebenaran, tetapi malah menghasilkan kebingungan, sesungguhnya jauh lebih baik daripada kita mengamini kebenaran yang tidak pernah kita ketahui alasannya. Sebagai penutup, mohon kebijaksanaan pembaca, untuk tidak mencoba mendalami tulisan ini tanpa petunjuk dari pihak yang berkompeten (baca : Pendeta, Bhiksu, atau Ulama), dan secara tegas saya sampaikan, tulisan ini tidak untuk dibaca oleh simpatisan maupun kader Partai Keadilan Sejahtera, yang hanya mengetahui agama (khususnya Islam) dari tataran buku terjemahan atau perkataan Murabbinya. Apabila ini terjadi, dan terdapat perselisihan paham, mohon dicermati sebagai bentuk keniscayaan yang timbul dari “kehausan” belajar agama yang hanya didasari oleh birahi “untuk masuk surga”… Percayalah, 4JJI atau Tuhan tidak akan memberikan surga dengan mudah, apalagi hanya dengan keteraturan membaca Al Qur’an atau Kitab Suci, tanpa mempelajari bahasa tulisan kitab suci tersebut… Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Comments 1 Comment »